Struktural Fungsionalisme

Struktural fungsionalisme adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosilogi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsi merupakan kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan sistem. Ada dua tokoh structural fungsionaisme, yaitu Talcott Parsons dan Robert K Merton. Parsons, sosiolog kontemporer yang berasal dari Amerika menyebutkan bahwa ada empat fungsi penting yang dibutuhkan bagi semua sistem sosial, yaitu adaptasi, goal attainment atau pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi yang seluruhnya biasa disebut dengan sebutan AGIL. Sedangkan Merton yang juga seorang sosiolog asal Amerika ini dianggap lebih dari ahli teori lainnya yang telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas serta seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas mengenai teori-teori fungsionalisme. Model analisa fungsional Merton ini merupakan hasil perkembangan pengetahuan yang menyeluruh dari teori-teori klasik yang menggunakan penulis besar seperti Max Weber.

Adaptasi, merupakan fungsi yang sangat penting, karena dalam hal ini sistem harus dapat beradaptasi dengan cara menanggulangi situasi eksternal yang urgent dan sistem juga harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Goal attainment atau pencapaian tujuan juga sangat penting, dimana sistem harus bisa mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya. Integrasi, artinya sistem harus mampu mengatur dan menjaga antara hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya, selain itu mengatur dan mengelola ketiga fungsi lainnya (adaptasi, goal attainment dan latensi). Sedangkan latensi, berarti bahwa sistem harus mampu berfungsi sebagai pemelihara pola.

Dalam pelaksanaannya, menurut Parsons fungsi adaptasi dapat dipraktikkan dengan cara menyesuaikan diri dan mengubah lingkungan eksternal. Lalu untuk fungsi pencapaian tujuan atau goal attainment difungsikan oleh sistem kepribadian dengan menetapkan tujuan sistem dan memobilisasi sumber daya untuk mencapainya. Sedangkan fungsi integrasi ini dipraktikkan oleh sistem sosial, dan laten difungsikan sistem kultular.

Struktural fungsionalisme menimbulkan beberapa masalah, sehingga untuk menjawab masalah-masalah tersebut Parsons menjelaskan beberapa asumsi, yaitu:

·      Sistem mempunyai property keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung.

·      Sistem cenderung bergerakke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan.

·      Sistem bergerak statis, artinya ia akan bergerak pada proses perubahan yang teratur.

·      Sifat dasar bagian suatu sistem akan mempengaruhi bagian-bagian yang lain.

·      Sistem akan memelihara batas-batas dengan lingkungannya.

·      Alokasi dan integrasi merupakan dua hal penting yang dibutuhkan untuk memelihara keseimbangan sistem.

·      Sistem cenderung menuju kea rah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas dan pemeliharaan hubungan antara bagian-bagian dengan keseluruhan sistem, mengendalikan lingkungan yang berbeda dan mengandalkan kecenderungan untuk merubah sistem dari dalam.

Merton menjelaskan bahwa analisis structural fungsional ini memusatkan perhatiannya pada suatu kelompok, organisasi, masyarakat dan kultur. Menurutnya, sasaran studi structural fungsional ini antara lain adalah peran sosial, pola institusional, proses sosial, pola kultur, emosi yang terpola secara kultural, norma sosial, organisasi kelompok, struktur sosial, perlengkapan untuk pengendalian sosial dan sebagainya. (Merton, 1949/1968: 104).

Merton mencoba membuat batasan-batasan beberapa konsep analisis dasar bagi analisa fungsional dan menjelaskan beberapa ketidakpastian arti yang terdapat di dalam postulat-postulat kaum fungsional. Merton menyebutkan bahwa kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai “suatu keadaan di mana seluruh bagian dari sistem sosial bekerja sama dalam suatu tingkat keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik yang berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur” (Merton, 1967: 80).

Teori structural fungsionalisme yang dikemukakan oleh Merton mempunyai perbedaan jika dibandingkan dengan teori yang disebutkan oleh Parsons. Parsons dalam teorinya lebih menekankan pada orientasi subjektif individu dalam perilaku, sedangkan Merton lebih pada konsekuensi-konsekuensi objektif dari individu dalam perilaku. Oleh karenanya, menurut pendapatnya konsekuensi-konsekuensi objek dari individu dalam perilaku tersebut ada yang bersifat fungsional dan ada juga yang bersifat disfungsional. Konsekuensi objektif dari individu dalam perilaku mampu mengarah pada integrasi dan keseimbangan, sedangkan konsekuensi objektif dari individu dalam perilaku yang bersifat disfungsional akan memperlemah integrasi, dan menyebabkan timbulnya ketegangan atau pertentangan dalam sistem sosial. Karena adanya ketegangan-ketegangan yang mengakibatkan adanya struktur-struktur baru tersebut akan berarti bahwa konsekuensi objektif yang bersifat disfungsional itu akan mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sosial. Keharusan adanya konsekuensi objektif baik fungsional maupun disfungsional dan harus adanya konsep-konsep alternatif fungsional dalam pelaksanaan analisisnya, tepat apabila diterapkan pada masyarakat yang memiliki perbedaan-perbedaan di antara kelompok-kelompok yang ada. Karena itulah Merton mengemukakan suatu Teori Kelompok Referensi yang digunakan sebagai penilaian dirinya dan pembanding serta menjadi bimbingan moral. Teori tersebut terdiri dari kelompok referensi normative, kelompok referensi komparatif, dan kelompok keanggotaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: